Mahasiswa UI Ciptakan RunSight, Kacamata AI untuk Pelari Disabilitas Visual

RunSight kacamata AI untuk pelari disabilitas visual karya mahasiswa UI

Inovasi teknologi kembali lahir dari kalangan mahasiswa Indonesia. Empat mahasiswa Universitas Indonesia (UI) berhasil menciptakan RunSight, sebuah kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk membantu pelari dengan disabilitas visual agar dapat berlari lebih aman dan percaya diri.

Perangkat inovatif ini dikembangkan oleh tim mahasiswa bernama Labmino. Melalui proyek tersebut, mereka berhasil menarik perhatian dalam kompetisi Samsung Solve for Tomorrow Indonesia 2025 karena menghadirkan solusi teknologi yang inklusif dan berdampak nyata bagi masyarakat.

Pengembangan RunSight berawal dari riset mendalam mengenai berbagai tantangan yang dihadapi penyandang disabilitas visual saat berlari. Berdasarkan observasi dan wawancara dengan sejumlah pengguna, tim menemukan bahwa aktivitas berlari di lintasan masih memiliki risiko tinggi jika dilakukan tanpa bantuan pemandu.

Untuk menjawab tantangan tersebut, tim Labmino merancang perangkat wearable berbentuk kacamata yang ringan dan nyaman digunakan. Perangkat ini dilengkapi kamera RGB yang terhubung dengan sistem kecerdasan buatan untuk membaca kondisi lintasan serta lingkungan di sekitar pengguna.

Teknologi AI di RunSight

teknologi RunSight mendeteksi lintasan lari menggunakan kamera dan AI
Ilustrasi teknologi RunSight menggunakan kamera dan AI untuk membantu pelari disabilitas visual tetap berada di lintasan.

RunSight bekerja dengan menangkap gambar di sekitar pengguna melalui kamera yang terpasang pada kacamata. Data visual tersebut kemudian diproses oleh sistem AI secara real time untuk mengenali garis lintasan sekaligus mendeteksi berbagai potensi hambatan di depan pelari.

Setelah dianalisis, sistem akan memberikan instruksi suara kepada pengguna agar tetap berada di jalur yang benar dan menghindari rintangan di lintasan. Dengan mekanisme tersebut, RunSight dapat berfungsi sebagai pemandu lari virtual yang membantu pelari disabilitas visual berlari secara mandiri.

Teknologi yang dikembangkan juga mampu menyesuaikan arahan dengan kecepatan pengguna saat berlari. Selain itu, tim pengembang menambahkan sistem keamanan agar instruksi suara tidak muncul secara tiba-tiba sehingga tetap nyaman diikuti selama aktivitas berlari.

Berkat inovasi tersebut, tim Labmino berhasil meraih prestasi dalam ajang Samsung Solve for Tomorrow. Tim mahasiswa dari Universitas Indonesia ini bahkan masuk dalam sepuluh besar program Global Ambassador.

Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa inovasi teknologi dari mahasiswa Indonesia memiliki potensi untuk bersaing di tingkat internasional. RunSight sekaligus membuka peluang pengembangan teknologi wearable berbasis kecerdasan buatan yang lebih inklusif di masa depan.

Salah satu anggota tim, Anthony Edbert Feriyanto, berharap keberhasilan ini dapat menginspirasi generasi muda Indonesia untuk terus berinovasi dan menciptakan teknologi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Posting Komentar