Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali memicu gejolak di pasar keuangan global, termasuk pasar aset kripto seperti Bitcoin. Penutupan Selat Hormuz serta meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran membuat sentimen pasar berubah dengan cepat.
Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan harga energi dunia sekaligus meningkatkan kehati-hatian investor terhadap aset berisiko. Ketidakpastian geopolitik membuat pergerakan pasar menjadi lebih sensitif terhadap perkembangan berita global.
Vice President Indodax, Antony Kusuma, mengatakan bahwa pergerakan pasar dalam beberapa hari terakhir menunjukkan betapa kuatnya pengaruh sentimen global terhadap berbagai instrumen investasi.
Lonjakan dan koreksi harga yang terjadi dalam waktu singkat menunjukkan bahwa pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan berita global. Dalam situasi seperti ini, sentimen internasional dan dinamika kebijakan menjadi faktor penting yang memengaruhi pergerakan aset berisiko, termasuk saham dan kripto
Antony Kusuma
Minyak, Emas, dan Bitcoin Ikut Bergerak
Ketegangan geopolitik tersebut juga berdampak pada pasar energi global. Harga minyak dunia dilaporkan naik hingga sekitar USD 80 per barel. Kenaikan ini memicu kekhawatiran terhadap potensi inflasi serta gangguan pasokan energi di berbagai negara.
Di sisi lain, harga emas sebagai aset lindung nilai juga mengalami penguatan dan berada di kisaran USD 5.100 per troy ons. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset yang dianggap lebih aman saat ketidakpastian global meningkat.
Dampak sentimen global tersebut dengan cepat tercermin di pasar kripto yang beroperasi selama 24 jam. Berdasarkan data CoinMarketCap, harga Bitcoin sempat turun ke level USD 63.100 pada akhir pekan.
Namun pada awal pekan berikutnya, harga Bitcoin kembali menguat hingga menyentuh USD 70.000 sebelum akhirnya bergerak stabil di kisaran USD 68.000.
Saat ini kapitalisasi pasar kripto global berada di sekitar USD 2,33 triliun. Angka tersebut menunjukkan bahwa pasar kripto masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik serta kondisi makroekonomi global.
Volatilitas yang terjadi merupakan hal yang wajar ketika pasar menghadapi ketidakpastian global. Pada fase awal gejolak, banyak investor cenderung mengambil sikap risk-off untuk menjaga likuiditas portofolio mereka.
Antony Kusuma
Setelah fase tersebut, sebagian investor mulai mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih defensif. Strategi diversifikasi portofolio pun menjadi pilihan yang banyak digunakan dalam kondisi pasar seperti saat ini.
Beberapa investor memilih memindahkan sebagian aset ke kripto yang lebih stabil seperti Tether (USDT) atau USD Coin (USDC). Ada pula yang mempertimbangkan aset kripto berbasis emas seperti Tether Gold (XAUT) yang cenderung mengikuti pergerakan harga logam mulia.
Di tengah dinamika pasar global, Indodax menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas platform, termasuk dari sisi likuiditas, keamanan sistem, serta transparansi transaksi. Hal ini dinilai penting agar aktivitas perdagangan kripto tetap berjalan lancar meski pasar sedang bergejolak.
Antony juga mengingatkan bahwa investor perlu tetap disiplin dalam menerapkan manajemen risiko dan memiliki perspektif investasi jangka panjang. Pendekatan rasional dinilai penting agar investor tidak mudah terpengaruh oleh sentimen pasar jangka pendek.
Investor juga disarankan melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi. Dalam kondisi pasar yang dipengaruhi tekanan makro seperti saat ini, strategi investasi bertahap seperti Dollar Cost Averaging (DCA) masih dianggap efektif untuk mengurangi dampak volatilitas harga di pasar kripto.