Harga Bitcoin kembali tertekan akibat ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Aset kripto terbesar di dunia ini sempat menembus di bawah USD 67.000 pada Minggu malam (waktu setempat), setelah sebelumnya sempat pulih dari aksi jual tajam. Tekanan ini muncul menyusul serangan udara Amerika Serikat dan Israel ke Iran, diikuti aksi balasan dari kawasan tersebut.
Dikutip dari Yahoo Finance, Senin (2/3/2026), dalam 24 jam terakhir, Bitcoin (BTC-USD) terkoreksi sekitar 1%. Penurunan ini sejalan dengan melemahnya kontrak berjangka saham AS, yang mencerminkan kekhawatiran investor global terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.
Pada Sabtu dini hari, harga Bitcoin sempat anjlok hingga USD 63.255 akibat meningkatnya ketegangan. Namun, di hari yang sama, Bitcoin berhasil rebound menembus USD 68.000 setelah beredar kabar bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, disebut tewas.
Tidak hanya Bitcoin, Ether (ETH-USD) juga terdampak. Kripto terbesar kedua ini diperdagangkan di kisaran USD 1.950 pada Minggu, setelah sebelumnya merosot sekitar 10% pasca-serangan.
Menurut Sean Farrell, Head of Digital Assets di Fundstrat, ketahanan kripto di tengah eskalasi geopolitik menjadi sinyal positif bagi pasar.
Ketahanan kripto di tengah eskalasi geopolitik menjadi sinyal positif dan membuka peluang kenaikan secara taktis seiring mulai berkurangnya posisi defensif investor
Farrell kepada Yahoo Finance
Lonjakan Harga Minyak Jadi Risiko Utama Bitcoin
Meski demikian, Farrell memperingatkan bahwa aksi jual akibat sentimen geopolitik seringkali bisa menjadi peluang beli, asalkan tidak berdampak luas dan berkepanjangan terhadap ekonomi global, terutama sektor energi.
Pada Minggu malam, harga minyak mentah melonjak tajam. Kontrak Brent crude (BZ=F) sempat naik hingga 13%, sementara West Texas Intermediate (WTI) melonjak hampir 10%.
Minyak mentah tetap menjadi variabel risiko utama. Setiap eskalasi lanjutan yang signifikan mengganggu jalur pelayaran atau aliran energi kemungkinan akan menghapus pandangan positif jangka pendek ini
Farrell
Bitcoin Masih Berjuang Bangkit dari Rekor Tertinggi
Sepanjang tahun ini, Bitcoin masih terkoreksi sekitar 23%, setelah mencatat lima bulan berturut-turut pelemahan hingga Februari. Aset digital ini juga masih berusaha pulih setelah terperosok dari rekor tertinggi sepanjang masa USD 126.000 pada Oktober lalu.
Beberapa analis Wall Street bahkan telah menurunkan proyeksi harga akhir tahun. Skenario paling optimistis sekalipun memperkirakan Bitcoin berpotensi turun hingga USD 50.000, sebelum kembali mengalami reli pada paruh kedua tahun ini.
Dengan kondisi geopolitik yang masih bergejolak, investor disarankan tetap waspada, namun peluang beli tetap terbuka bagi mereka yang bersedia mengambil risiko jangka pendek.